Tentu akan ada banyak hikmah dibalik ibadah puasa selama bulan suci Ramadan yang dilaksanakan oleh setiap umat Muslim. Tujuannya sudah termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 183, yang menjelaskan agar umat Muslim menjadi orang-orang yang bertakwa.
Selama menjalankan ibadah puasa, umat Muslim diwajibkan untuk menahan hawa nafsu dari rasa lapar dan haus mulai terbit sang fajar hingga terbenam menjelang malam tiba.
Anggota Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta Muhammad Taufik Zoelkifli menyampaikan momentum bulan Ramadan adalah hal yang tepat untuk mengosongkan diri dari segala prasangka perbuatan yang buruk terhadap sesuatu. Sehingga ketakwaan pada diri manusia semakin meningkat.
Hal itu sesuai dalam kandungan Surat Al Anfal ayat 2 yang berbunyi lnnamal-mu’minûnalladzîna idzâ dzukirallâhu wajilat qulûbuhum wa idzâ tuliyat ‘alaihim âyâtuhû zâdat-hum îmânaw wa ‘alâ rabbihim yatawakkalûn.
Artinya; Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.
“Bulan Ramadan ini bulan yang tepat sekali untuk meng-overhoul diri kita, mereset lagi diri kita ke setelan awal. Awal kita adalah seorang yang beriman yang mana dikatakan dalam surat Al Anfal ayat dua,” ujar Taufik sapaan akrabnya saat dihubungi, Kamis (27/3).
Taufik menambahkan, itulah sebabnya mengapa Ramadan disebut bulan berkah lantaran 11 bulan lainnya memilik godaan dunia yang bermacam-macam. Sehingga Allah memberikan hadiah bulan Ramadan kepada umat manusia.
“Islam mengatur ajarannya bahwa dalam bulan Ramadan ini kita harus berpuasa wajib hukumnya. Kemudian ditambah dengan amalan-amalan kebaikan lainnya,” ungkap Taufik.
Setelah menjalankan ibadah puasa selama 30 hari, harap Taufik, dapat meningkatkan ketakwaan dalam diri serta menjauhkan diri dari segala prasangka dan perbuatan yang merugikan diri.
Apalagi memasuki 10 malam terkahir, Taufik berharap, bersama keluarganya mendapatkan malam Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar.
Yakni satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan yang dalam Alquran digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
“Ini adalah bulan dimana kita bisa membersihkan diri semaksimal mungkin. Menambah amal amal ibadah atau memperbahrui keimanan kita,” jelas Taufik.
“Terutama di 10 malam terakhir itiqaf kita, Insya Allah mendapatkan Laiatul Qodar,” tambah Taufik.
Menyambut Hari Raya Idulfitri 1446 Hijiriah, Taufik berharap seluruh masyarakat khususnya warga DKI Jakarta dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah SWT.
Sehingga adanya Ramadan menjadikan kesempatan untuk kembali menjadi fitrah manusia sesungguhnya.
“Hari Raya Idulfitri bisa kita maknai sebagai kemenangan. Kita berhasil menahan hawa nafsu selama sebulan penuh,” pungkas dia. (apn/df)